brengsek is BACK!!!
| MT | Mey |


About

Tentang Kecewa...
Tentang Hidup...
Tentang Cinta...
Suka cita...
Tentang Apa saja...

Hanya ingin mengenang, bahwa hidup perlu perubahan, sebuah proses dan penuh perjalanan!!!


Previous

  • Pages: 1 2 3


  • Archives



    free blog host
    free blog
    - eBloggy

    designed by maystardesigns

    Ikutan Uni


    You are The Hierophant

    Divine Wisdom. Manifestation. Explanation. Teaching.

    All things relating to education, patience, help from superiors.The Hierophant is often considered to be a Guardian Angel.

    The Hierophant's purpose is to bring the spiritual down to Earth. Where the High Priestess between her two pillars deals with realms beyond this Earth, the Hierophant (or High Priest) deals with worldly problems. He is well suited to do this because he strives to create harmony and peace in the midst of a crisis. The Hierophant's only problem is that he can be stubborn and hidebound. At his best, he is wise and soothing, at his worst, he is an unbending traditionalist.

    What Tarot Card are You?
    Take the Test to Find Out.


    pangeranBrengsek at October 27, 2007 12:21 AM | 1 comments

    ARI HANDAYANI

    Aku Rindukan Inginmu,
    Hadir Antarkan Nyanyian Dawai Agar Yakinkan Aku Negeri Indahmu

    Dimalam tak berbintang
    Pada tanah tak bertuan
    Ada rindu yang menggelora,
    Padamu

    Seperti liat yang kian mengendap
    Dikaki rumah Batola
    pangeranBrengsek at October 09, 2007 6:23 PM | 0 comments

    SEJENAK

    Perlahan...
    Langkah kakiku terkubur. Sedikit, sedikit
    Hingga kemudian lututku terpendam
    Ibu jariku menjerit..
    Jariku manisku meengek dalam tangis
    Sedang aku...
    Makin tak mampu mengelak, dari segala coba
    Mendongak ku terpukul gada...
    Merunduk ku diredam cemeti...

    Allah...
    Angkat aku dari sini, agar damai
    Tercipta untukku bersama Mu
    Menggapai ridho menolak murka
    Mencapai suargo menjejak neraka

    Menggeliat...
    Tubuhku tergeriap. Binatang-binatang lumpur, sedikit-sedikit
    Sampai akhirnya sepotong tubuhku
    Terbujur kaku berdiri
    Tulangku hancur, dagingku membusuk
    Sedang aku...
    Makin pasrah menerima angkara dari Mu,
    Maha Kuasa...

    Allah...
    Angkat aku dari sini, agar damai
    Tercipta untukku bersama Mu
    Menggapai ridho menolak murka
    Mencapai suargo menjejak neraka

    Gemeretak...
    Tengorakku perlahan retak. Pelan-perlahan
    Sampai hancur, lebur jadi abu
    Hatiku beristighfar...
    Jantungku berdzikir...
    Makin malu yang kurasa
    Berkali ku ucap Do'a...
    Berkali pula ku buat Dosa...

    Allah...
    Angkat aku dari sini, agar damai
    Tercipta untukku bersama Mu
    Menggapai ridho menolak murka
    Mencapai suargo menjejak neraka

    On the nightmare of my Home stay, 20 Desember 2000, 01.48
    pangeranBrengsek at September 06, 2007 10:45 AM | 0 comments

    Durjana

    malamku hening diselimut kabutmu
    khusyukku mabuk digairahmu
    menyatu dijiwaku
    kepeluk engkau disela hidup yang makin durjana

    peluklah aku direnjana peluhmu
    timang aku disepi nafsumu
    didzikirku ada tubuhmu
    ditasbihku ada dadamu
    sitahlilku ada pusamu
    ditahmidku ada kelaminmu

    sungguh aku tak bisa berpaling darimu tuhan kecilku
    hingga kurasa nadhir diubun kepala
    dan kuhempas engkau disisa tenaga dan desah akhir nikmatku

    pangeranBrengsek at September 05, 2007 5:31 AM | 0 comments

    gw BT

    anjing-babi, bangsat-monyet, kodok-kuda, sapi-kecoa, uburubur-burung, uler-tikus, kambing-moa, belalang-rayap, semut-cengcorang, zebra-gajah, beruang-singa, macan-musang, kucing-ayam, bebek-soang, marmut-ikan, udang-kepiting, buaya-bajing, paus-kudanil, belut-kecebong, cupang-setan NGENTOT BARENG!!!
    pangeranBrengsek at June 29, 2007 4:37 AM | 0 comments

    Untuk Satu Purnama

    'Tabik !!', ucapku. 'Mari bersulang atas kegagalanku meninggalkanmu !'.

    Siang malam yang bergantian datang ternyata belum cukup, untuk ku melupakannya! Kebersamaan yang cukup panjang
    terlanjur mematri hatiku pada perasaan kehilangan. Ketika langkah mengajak aku pergi darinya, Kemabukan itu membawa lagi langkahku padanya.

    Malam itu,
    Bukan purnama pertama pada kesepakatan kami ! Aku bahkan pernah menyetubuhi nafasnya pada salah satu janji kepergianku. Lagi-lagi, kemabukan membawaku kembali padanya.

    'Bimbang ?!', tanyanya suatu ketika.
    'Memang', jawabku disela perasaan yang mereka bilang mengalaminya pada peristiwa-peristiwa seperti ini.
    'Aku bahkan tidak mengerti. Mengajakmu dengan segala kesalahan kita, atau meninggalkanmu dengan keangkuhan dan kesombonganku yang sama sekali merasa tak bersalah setelah perpisahan ini!.

    'Tidak !', katanya, 'Buang segala keraguan itu, tinggalkan aku disini dan jangan pernah lagi langkahmu menyalahkan aku !!'.

    'Tabik !!', sekali lagi kuangkat gelasku dan mengajaknya bersulang atas kegagalanku. Senyum tipis dan diamnya malah menohok tajam pada jantungku.

    'Pengecut..', teriakmu, 'Tidak cukupkan Dua Ratus Tujuh Puluh Enam Purnama kebersamaan kita, dan selama itu pula kau buat aku terus merasa terluka ?!! Hah, katakan ??!'. Aku terjungkal. Lengan kekarnya ternyata cukup kuat mendorongku dengan tinjunya.

    'Maaf', pintanya waktu itu segera setelah ia dekap aku erat tubuhku dalam peluknya.

    Aku tergugu mendengar bilangan yang diucapkannya padaku ! Dua Ratus Tujuh Puluh Enam Purnama !. 'Bukan waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan', gumamku dalam hati.

    'Dua Ratus Tujuh Puluh Enam Purnama kebersamaan kita itu masih lebih menyakitkan dari tinjumu sahabat ! jadi tidak adil rasanya meninggalkanmu disini. Sedangkan tatap mendakwa mereka lekat pada wajahmu', kataku.

    'Sudahlah !! ', tajam matanya menatapku, seperti memintaku pergi menjauh darinya.

    Aku terdiam. Aku ragu. Antara meninggalkannya dan mengajaknya pergi meneruskan perjalanan itu.

    'Bangsat !!', rutukku dalam hati atas ketidak mampuanku mengambil keputusan.

    Ia tersenyum. 'Aneh', pikirku.

    'Baiklah, menetaplah disini bersamaku untuk satu purnama. Ingat, satu purnama saja. Jangan lebih. Setelah itu berjanjilah kau akan pergi dan membiarkan aku dalam kesendirian ini', katanya memberikan pilihan.

    Kini setelah satu purnama, aku tertawa bodoh.

    'Aku kalah !!!', teriakku kencang pada purnama merah disana. Aku meninggalkannya penuh luka dan darah pergumulan kami.

    29 Mei - 3 Juni 2004
    pangeranBrengsek at June 17, 2007 8:13 AM | 0 comments

    Gumam sendiri

    Terlahir, Hidup dan Mati sendiri.

    : Seperti dikabarkan para auliyaa bahwa hidup adalah perjuangan melawan diri sendiri. Tapi bila diri tak lagi punya jiwa, apakah masih tetap berarti perjuangan?!
    pangeranBrengsek at November 10, 2006 4:28 AM | 0 comments