Ikutan Uni

You are The Hierophant
Divine Wisdom. Manifestation. Explanation. Teaching.
All things relating to education, patience, help from superiors.The Hierophant is often considered to be a Guardian Angel.
The Hierophant's purpose is to bring the spiritual down to Earth. Where the High Priestess between her two pillars deals with realms beyond this Earth, the Hierophant (or High Priest) deals with worldly problems. He is well suited to do this because he strives to create harmony and peace in the midst of a crisis. The Hierophant's only problem is that he can be stubborn and hidebound. At his best, he is wise and soothing, at his worst, he is an unbending traditionalist.
What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.
pangeranBrengsek at
October 27, 2007 12:21 AM |
1 comments
ARI HANDAYANI
Aku Rindukan Inginmu,
Hadir Antarkan Nyanyian Dawai Agar Yakinkan Aku Negeri Indahmu
Dimalam tak berbintang
Pada tanah tak bertuan
Ada rindu yang menggelora,
Padamu
Seperti liat yang kian mengendap
Dikaki rumah Batola
pangeranBrengsek at October 09, 2007 6:23 PM |
0 comments
SEJENAK
Perlahan...
Langkah kakiku terkubur. Sedikit, sedikit
Hingga kemudian lututku terpendam
Ibu jariku menjerit..
Jariku manisku meengek dalam tangis
Sedang aku...
Makin tak mampu mengelak, dari segala coba
Mendongak ku terpukul gada...
Merunduk ku diredam cemeti...
Allah...
Angkat aku dari sini, agar damai
Tercipta untukku bersama Mu
Menggapai ridho menolak murka
Mencapai suargo menjejak neraka
Menggeliat...
Tubuhku tergeriap. Binatang-binatang lumpur, sedikit-sedikit
Sampai akhirnya sepotong tubuhku
Terbujur kaku berdiri
Tulangku hancur, dagingku membusuk
Sedang aku...
Makin pasrah menerima angkara dari Mu,
Maha Kuasa...
Allah...
Angkat aku dari sini, agar damai
Tercipta untukku bersama Mu
Menggapai ridho menolak murka
Mencapai suargo menjejak neraka
Gemeretak...
Tengorakku perlahan retak. Pelan-perlahan
Sampai hancur, lebur jadi abu
Hatiku beristighfar...
Jantungku berdzikir...
Makin malu yang kurasa
Berkali ku ucap Do'a...
Berkali pula ku buat Dosa...
Allah...
Angkat aku dari sini, agar damai
Tercipta untukku bersama Mu
Menggapai ridho menolak murka
Mencapai suargo menjejak neraka
On the nightmare of my Home stay, 20 Desember 2000, 01.48
pangeranBrengsek at September 06, 2007 10:45 AM |
0 comments
Durjana
malamku hening diselimut kabutmu
khusyukku mabuk digairahmu
menyatu dijiwaku
kepeluk engkau disela hidup yang makin durjana
peluklah aku direnjana peluhmu
timang aku disepi nafsumu
didzikirku ada tubuhmu
ditasbihku ada dadamu
sitahlilku ada pusamu
ditahmidku ada kelaminmu
sungguh aku tak bisa berpaling darimu tuhan kecilku
hingga kurasa nadhir diubun kepala
dan kuhempas engkau disisa tenaga dan desah akhir nikmatku
pangeranBrengsek at September 05, 2007 5:31 AM |
0 comments
gw BT
anjing-babi, bangsat-monyet, kodok-kuda, sapi-kecoa, uburubur-burung, uler-tikus, kambing-moa, belalang-rayap, semut-cengcorang, zebra-gajah, beruang-singa, macan-musang, kucing-ayam, bebek-soang, marmut-ikan, udang-kepiting, buaya-bajing, paus-kudanil, belut-kecebong, cupang-setan NGENTOT BARENG!!!
pangeranBrengsek at June 29, 2007 4:37 AM |
0 comments
Untuk Satu Purnama
'Tabik !!', ucapku. 'Mari bersulang atas kegagalanku meninggalkanmu !'.
Siang malam yang bergantian datang ternyata belum cukup, untuk ku melupakannya! Kebersamaan yang cukup panjang
terlanjur mematri hatiku pada perasaan kehilangan. Ketika langkah mengajak aku pergi darinya, Kemabukan itu membawa lagi langkahku padanya.
Malam itu,
Bukan purnama pertama pada kesepakatan kami ! Aku bahkan pernah menyetubuhi nafasnya pada salah satu janji kepergianku. Lagi-lagi, kemabukan membawaku kembali padanya.
'Bimbang ?!', tanyanya suatu ketika.
'Memang', jawabku disela perasaan yang mereka bilang mengalaminya pada peristiwa-peristiwa seperti ini.
'Aku bahkan tidak mengerti. Mengajakmu dengan segala kesalahan kita, atau meninggalkanmu dengan keangkuhan dan kesombonganku yang sama sekali merasa tak bersalah setelah perpisahan ini!.
'Tidak !', katanya, 'Buang segala keraguan itu, tinggalkan aku disini dan jangan pernah lagi langkahmu menyalahkan aku !!'.
'Tabik !!', sekali lagi kuangkat gelasku dan mengajaknya bersulang atas kegagalanku. Senyum tipis dan diamnya malah menohok tajam pada jantungku.
'Pengecut..', teriakmu, 'Tidak cukupkan Dua Ratus Tujuh Puluh Enam Purnama kebersamaan kita, dan selama itu pula kau buat aku terus merasa terluka ?!! Hah, katakan ??!'. Aku terjungkal. Lengan kekarnya ternyata cukup kuat mendorongku dengan tinjunya.
'Maaf', pintanya waktu itu segera setelah ia dekap aku erat tubuhku dalam peluknya.
Aku tergugu mendengar bilangan yang diucapkannya padaku ! Dua Ratus Tujuh Puluh Enam Purnama !. 'Bukan waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan', gumamku dalam hati.
'Dua Ratus Tujuh Puluh Enam Purnama kebersamaan kita itu masih lebih menyakitkan dari tinjumu sahabat ! jadi tidak adil rasanya meninggalkanmu disini. Sedangkan tatap mendakwa mereka lekat pada wajahmu', kataku.
'Sudahlah !! ', tajam matanya menatapku, seperti memintaku pergi menjauh darinya.
Aku terdiam. Aku ragu. Antara meninggalkannya dan mengajaknya pergi meneruskan perjalanan itu.
'Bangsat !!', rutukku dalam hati atas ketidak mampuanku mengambil keputusan.
Ia tersenyum. 'Aneh', pikirku.
'Baiklah, menetaplah disini bersamaku untuk satu purnama. Ingat, satu purnama saja. Jangan lebih. Setelah itu berjanjilah kau akan pergi dan membiarkan aku dalam kesendirian ini', katanya memberikan pilihan.
Kini setelah satu purnama, aku tertawa bodoh.
'Aku kalah !!!', teriakku kencang pada purnama merah disana. Aku meninggalkannya penuh luka dan darah pergumulan kami.
29 Mei - 3 Juni 2004
pangeranBrengsek at June 17, 2007 8:13 AM |
0 comments
Gumam sendiri
Terlahir, Hidup dan Mati sendiri.
: Seperti dikabarkan para auliyaa bahwa hidup adalah perjuangan melawan diri sendiri. Tapi bila diri tak lagi punya jiwa, apakah masih tetap berarti perjuangan?!
pangeranBrengsek at November 10, 2006 4:28 AM |
0 comments